Speech recognition atau pengenalan ucapan ditemukan pada tahun 1952 oleh Bell Laboratories. Mereka menamainya Audrey, sebuah sistem speech recognition yang difokuskan pada angka, bukan kata-kata.
Lalu 10 tahun setelahnya, IBM mengeluarkan speech recognition yang diberinama Shoebox, yang memahami dan dapat merespon 16 kata dalam bahasa inggris. HIngga akhirnya berbagai ilmuwan di seluruh dunia berusaha keras untuk mengembangkan perangkat speech recognition yang dapat mengenali suara dan ucapan dengan lebih baik dan akurat.
Speech recognition merupakan salah satu dari bentuk Artificial Intelligence atau AI. Speech recognition adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh mesin atau aplikasi untuk mengindentifikasi kata dan frasa yang terdapat dalam bahasa lisan. Kata dan frasa tersebut akan diolah dan dirubah menjadi sebuah format yang dapat dibaca oleh mesin atau aplikasi tersebut. Setelah kata dan frasa telah di olah menjadi format yang dapat dibaca oleh mesin atau aplikasi tersebut, speech recognition akan menganalisa perintah apa yang masuk dan pekerjaan atau respon apa yang harus di keluarkan oleh mesin atau aplikasi tersebut.
Dalam praktiknya, speech recognition akan membutuhkan sampel kata atau frasa yang di dapat dari ucapan para pengguna. Sampel dari kata dan frasa tersebut akan di rubah ke format khusus dan disimpan untuk digunakan sebagai landasan dalam respon selanjutnya.
Perbedaannya dengan Voice Recognition
Berbeda dengan Voice Recognition yang fungsinya ditujukan untuk mengidentifikasi orang yang sedang berbicara dengan cara melakukan analisa terhadap pola ucapan unik dari setiap anatomi manusia, seperti nada suara, gaya bicara dan lain-lain. Namun pada saat ini, speech recognition dapat berintergrasi dengan voice recognition dalam suatu mesin atau aplikasi, yang berarti mesin atau aplikasi tersebut hanya dapat bekerja berdasarkan suara orang-orang tertentu saja.
Manfaat
Secara garis besar, saat speech recognition bertujuan untuk membantu mengerjakan tugas-tugas sederhana manusia seperti mengirim pesan, membacakan email terbaru, mengingigatkan jadwal rapat atau menanyakan sesuatu yang kita tidak tahu. Namun seiring berkembangnya zaman, speech recognition tentu akan membantu banyak sektor seperti kesehatan, militer dan bisnis.
Terintergrasinya speech recognition dalam sektor kesehatan tentunya dapat membantu sebuah rumah sakit meningkatkan pelayanannya. Seorang lanjut usia atau berkebutuhan khusus dapat mendapatkan pelayanan cepat walaupun hanya berhadapan dengan mesin atau aplikasi. Lalu bagaimana dengan sektor bisnis?
Speech recognition dalam dunia bisnis tidak diragukan lagi manfaatnya, jika speech recognition dapat berkembang semakin sempurna lagi, tentu akan berdampak besar terhadap bisnis yang menggunakannya. Kita ambil contoh penggunaan voice-based chatbot dalam suatu website yang menjual produk. Semakin berkembangnya zaman, individu semakin ingin sesuatu yang cepat yang pada akhirnya berdampak pada pengambilan keputusan dari individu orang itu sendiri.
Katakanlah Budi sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, dia menyetir mobil seorang diri. Ditengah-tengah perjalanan dia teringat akan sesuatu produk dan ingin membeli barang tersebut. Normalnya, Budi akan menepi terlebih dahulu atau menunggu hingga dia sampai di Bandung, namun dengan adanya speech recognition, Budi tetap dapat memesan barang tersebut sambil menyetir tanpa harus mengorbankan waktu dan keselamatannya.
Comments
Post a Comment